Travel & Photography

Ulin Tepi Ka Sasab : Petualangan Klasik Berbasis IT


“Ulah Ulin Jauh Teuing , Bisi Nyasab”

Ungkapan pemecah keasikan bermain sewaktu kecil , sebuah tanda kekhawatiran orang tua pada anaknya  yang penuh rasa ingin tau. Kata “Nyasab” (bhs Sunda) yang berarti “Tersesat” , mungkin berkonotasi negatif. Karena setelahnya pasti dibarengi kata “Leungit” atau menghilang … lalu orang tua mana  yang ingin kehilangan anaknya gara2 keasikan ulin / bermain sampai nyasab / tersesat.

Seakan ingin merubah konotasi negatif, hari minggu 3 mei sebuah games “Ulin tepi ka sasab” digelar dikampung linggawastu sebagai salah satu rangkaian acara Helarfest 2015. Alasan Kampung linggawastu dipilih karena dipenuhi oleh puluhan gang sempit yang terkoneksi satu dengan yang lain , layaknya sebuah labirin raksasa di tengah kota kembang.

Ulin Tepi Ka Sasab
Ulin Tepi Ka Sasab

Dua minggu sebelumnya , digelar sebuah Workshop Fotografi Kampung – “Kampung Kami, Kampung Kita”. Sebuah kegiatan workshop fotografi citizen journalism dan photo story tentang cerita kampung disini. Banyak karya foto dihasilkan melalui workshop ini ,kebetulan saya & teman2 dari komunitas Bandoeng Photostreet Shooter menjadi salah satu pesertanya. Cerita lengkap workshopnya pernah dibahas sma Kang Arif diblognya (klik disini)

Pada dasarnya game “Ulin tepi ka sasab” adalah permainan klasik petualangan mencari petunjuk khas anak kampung. Petualangan menjadi lebih kekinian karena yang dipadu dengan teknologi berbasis IT. Setiap peserta mencari petunjuk dipandu oleh aplikasi yang disematkan dismartphone , setiap mendapati petunjuk berbentuk barcode harus discan untuk menampilkan petunjuk selanjutnya.

Ulin Tepi Ka Sasab
Ulin Tepi Ka Sasab

Yang menarik perhatian kami dari komunitas karena 8 photo karya kami menjadi petunjuk dari total 28 petunjuk dalam games ini. Kami kira photo hanya dicetak dalam bentuk kecil… Owh… ternyata dicetak dalam baligo berbentuk sangat besar. Sebuah kebanggaan atas apresiasi yang diberikan pasti menjadi pelecut semangat kami untuk lebih baik dalam berkarya.

Peserta yang kebanyakan pelajar SMA atau disebut Sasaber , dilepas dikencarkeun ke area sasab , sedangkan kami para kuli lensa bergelar “Ranger” tuturut munding mengikuti mereka. Seperti sebuah cara klasik sembari mencari momen estetik disetiap jepretan kala nyasab bersama.

Karya Bandoeng Photostreet Shooter
Karya Bandoeng Photostreet Shooter

Mungkin klo sudah benar2 tersesat saatnya GPS “Gunakan Penduduk Setempat” diaplikasikan .. “Punten akang,Teteh ieu jalan kaluar palih mananya ?”.

Pada akhirnya kata “nyasab” tidak lagi berkonotasi negatif tapi menjadi sebuah proses yang menggabungkan nalar , kreativitas & kemampuan motorik bagi setiap pesertanya. Ditambahkan kata “ulin” menjadikan proses “nyasab” menjadi lebih seru bahkan liar, canda tawa & keringat menjadi pemanis hari itu. Tersatir celetukan seorang teman “Sanyasab2na ulin ge , kalem we masih keneh di Indonesia” (Senyasar2nya juga , tenang aja masih di Indonesia).

3 thoughts on “Ulin Tepi Ka Sasab : Petualangan Klasik Berbasis IT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s