My Story

1998 – Nikon F80 – Dago : Cara Klasik Pembeku Moment Klasik


Penat melanda dari perjalanan menyusuri beberapa kota semenanjung barat indahnya negeri Samurai. Setiap hari langkah ini disusupi ambisi mencari pendekatan surealisme ala Henri Cartier Bresson atau sesekali mencari warna kelam ala Daido Moriyama. Terbayang di era penjajahan mungkin mereka akan meneriaki “Inlander” jika saya terlihat berjalan didepan mereka. Mungkin terucap dihatinya beginilah derap seorang inlander yang berjalan dengan ransel besar berisi beberapa kamera & lensa sebagai nafas penyambung hidup.

Dari kejauhan tampak puluhan bocah berusia belasan, riang berkumpul disalah satu taman di kota. Mata saya memicing mencari gerak natural dari rona berbalut wajah riang Uh pertanyaan membuncah “dimana saya sekarang , Ah saya nyaris tidak peduli“. Tak pikir panjang, dslr Canon segera berubah menjadi sosok Nikon F80 analog siap dengan Film Superia Asa 100 untuk menjepret moment klasik mereka dari kejauhan. Sungguh momen klasik ini tentunya lebih indah diabadikan dengan cara klasik pula.

Malamnya disebuah ruang gelap , saya mulai meracik adonan film hasil jepretan tadi siang. Tiap lembaran mulai bergantungan diatas seutas tali lalu mata saya kembali memicing melihat lembaran itu. Sebuah memori seperti menari diotak kiri yang sekarang terekam pada lembaran2 foto dalam lemari saya di tanah air.

1998 -Nikon F80-
1998 -Nikon F80-

Kurang lebih 17 tahun yang lalu di pertengahan 1998 , dengan kamera & film yang sama Nikon F80 , paman saya menjepret sekumpulan bocah yang baru akan mengerti arti sebuah kelulusan dari sebuah sekolah dasar. Wajah polos & nyaris lugu menjelang masa pubertas , terbias dari riangnya tawa dan saya ada diantara. Entah hari apa itu saya pun sudah lupa , kami berkumpul dipelataran sekolah kami , teman2 perempuan memakai kebaya untuk memaknai hari itu. Sedangkan kaum lelaki, hah berpakaian seperti pelamar kerja dengan kemeja putih & celana hitam. Perpaduan yang aneh atau epik … kembali….entahlah.

Selanjutnya kami digiring ke sebuah kelas yang cukup gelap didalam gedung sekolah , untuk memulai prosesi wisuda kecil. Raut wajah riang , haru & bangga tergurat di setiap wajah kami. Upacara sederhana pemberian ijazah & pengalungan piagam tanda angkatan layaknya prosesi pelepasan prajurit ke medan perang. Tidak salah menyebutnya medan perang .. yup…selepas itu kami bertempur dengan cita cita , belajar berdamai dengan ego sampai berjuang melawan setan kemalasan. Dan saya , berusaha menggantungkan nasib dengan nilai seadanya sembari bernafas lewat beasiswa ditiap bulan. Jauh pelupuk mata memori 6 tahun sebelumnya itu kadang datang akan sebuah kebersamaan yang kecil … Ugh nostalgia berbalut imajinasi liar ini memang sialan….

1998 -Nikon F80-
1998 -Nikon F80-

Tinta merah meninggalkan coreng besar dipenghujung perjalanan pendidikan kami itu. Sebuah instruksi dari seorang guru menyuruh kami bekerja sama saat ujian, yang pasti demi menaikan pamor sekolah. Mungkin kami masih polos , akhirnya mengiyakan praktek itu. Mungkin saya diantara yang merasa benar2 tersakiti , impian masuk SMP favorit di Bandung Gagal Total , buah pecahnya fokus dari kepoloson membantu teman2. Satu pelajaran penting didapat waktu itu “Kerjasama = Mencontek = Mahalnya Kejujuran” hal ini terpatri jelas di sanubari. Tidak ada kerjasama atau mencontek lagi pada akhirnya saya tersadar perilaku mencontek adalah sisi lain ketidak kejujuran pada akhirnya melahirkan pribadi yang  miskin integritas (dalam konteks Bangsa).

If you tell the truth, you don’t have to remember anything.” – Mark Twain

Ditahun2 berikutnya sering terdengar “Sok Idealis, Egoistis” ujar beberapa teman saat tau saya tidak pernah bekerja sama saat ujian. Bukan itu kawan , bagi saya pendidikan bukanlah tujuan tapi adalah sebuah proses yang tidak indah jika harus dinodai.

Tak terasa tahun berganti tahun , kumpulan bocah itu telah tumbuh menggapai cita-cita atau mungkin malah mendapat cita-cita yang lain. Sesekali saya pernah melihat kawan semasa SD dari kejauhan , tertawa riang dengan dunia barunya. Bahkan ada teman yang bersama satu kampus tapi saya tak pernah menyapa atau sekedar mengobrol, keraguan yang datang jelas menghalangi. Beberapa yang lain hanya tak sengaja bertemu di keramaian , Hmmm saya biasanya tersenyum sambil mengingat-ingat . . . Maaf . . . .

1998 -Nikon F80-
1998 -Nikon F80-

Penghujung 2014 memori itu mulai terangkai nyata , sehabis mengambil beberapa shoot dihotel jayakarta saya membanting kemudi ke arah dago atas yang bermetamorfosa menjadi komplek mewah pertanda geliat pribumi mulai tergerus arus para pemilik modal. Turun kearah pasar , didepan SDN Coblong saya memarkir kendaraan lalu mengambil senjata andalan . . . sebuah bangunan sekolah yang epik , tapi bagi saya itu sebuah bangunan Heritage penuh kenangan.

Mungkin suatu saat nanti “entah kapan” —> sebuah ungkapan rencana tanpa inisiasi. Kita akan bertemu sembari bercerita , membagi pelajaran & makna. Terbayang jika bertemu , mungkin kita akan merasakan hidangan kuliner berkelas ala Chef Taufan , alunan musik keras tapi friendly ala Bro Ganjar atau mungkin ada kejutan lain yang datang. Dan saya …HAH…Kembali mematung dengan Nikon F80 , kembali membekukan sebuah moment klasik lewat cara yang klasik pula.

One thought on “1998 – Nikon F80 – Dago : Cara Klasik Pembeku Moment Klasik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s